This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences. Now replace these with your own descriptions.

Jumat, 19 Agustus 2022

Menulis Ajaib

Bagi sebagian besar manusia, pikun adalah suatu hal yang lumrah saat kita menjelang usia tua. namun coba kta renungkan, " Betapa repotnya masa tua kita,. hemmm,,.Oleh karena itu, tidak sedikit para pensiunan yang masih tetap beraktivitas untuk menghindari penyakit yang tidak bisa dihindari dantidak ada obatnya.

Sebagai seorang manusia biasa yang harus kita lakukan adalah upaya untuk menunda pikun. Kata "menunda" kita gunakan adalah mengganti kata "menyembuhkan", karena kepikunan tidak ada obatnya. agar kepikunan tidak datang lebih awal, atau istilahnya dengan "kepikunan dini".

Hampir 10 tahun keinginan menulis selalu mengejar dan membayani aktivitas sehari-hari. Berbagai upaya juga telah dilakukan, mulai membuat note pada laptop, catatan-catatan kecil pada buku harian atau buku agenda serta mengikuti pelatihan-pelatihan menulis baik online maupun offline. Untuk memberikan energi positif menulis, karena materi pelatihan menulis, ya di ulang begitu-begitu saja, tapi yang paling penting adalah semangat yang tak pernah habis untuk menulis.

Hal yang menarik adalah setiap keinginan menulis selalu terinagat banyak hal yang terjadi pada masa lalu, kadang-kadang sampai detail, ya sampai detail. Setiap peristiwa yang pernah kita alami akan mengalir dengan cepat melalui coretan pena kita. Meskipun hanya sekedar seketsa-seketsa yang menggambarkan suatu kejadian, Maka tak salah, kalau seorang psikolog atau guru TK dapat menilai tulisan atau coretan seorang siswa terhadap kejadian sebelumnya yang pernah dialami. Makna lain menulis dapat memenggil memori-memori kita yang sudah terekam pada masa lalu. Sederhananya menulis akan menunda kepikunan kita.

Heemm.., menulis.., lanjutkan  

Rabu, 06 Juli 2016

Mengikat Makna

Mengikat Makna adalah sebuah aktivitas yang menggabungkan membaca dan menulis. Ketika kamu selesai membaca koran, majalah, jurnal, makalah, buku atau tulisan apa saja, cobalah untuk ’mengikat’ hasil kegiatan membacamu dengan cara menuliskannya. Orang yang gagal menulis apa yang dia mengerti bukan karena dia tak punya ide dan tak bisa menulis. Terkadang dia juga punya semangat dan gairah. Tapi, kenapa gagal? Karena dia malas dan tak mau membaca sehingga kekurangan atau miskin kata-kata. Kemiskinan kata-kata ini menyulitkannya merumuskan apa yang dia mengerti.
Tuhan melimpahkan kasih sayang kepada hamba-Nya secara unik dan luar biasa lewat membaca (iqra’). Dengan kemampuan membaca, manusia kemudian bisa memiliki derajat di atas malaikat. Dengan kemampuan membaca, seorang manusia dapat mendaki tangga kualitas kehidupan. Manusia dapat menantang dirinya untuk terus mereguk nikmat Tuhan yang tersebar di alam semesta, menjumpai wilayah baru, menyimpan pengetahuan baru dan menjelajahi kehidupan luas yang hampir tidak terbatas (feel so excited for these words).
Setelah kita selesai membaca, dianjurkan agar deretan teks yang telah selesai dibaca tersebut direnungkan dengan jalan dipertanyakan. Misalnya, dengan bertanya, ”Apa yang kita dapat sehabis membaca tiga halaman novel Laskar Pelangi ini, halaman 120-123, apa yang membuat kita terkesan?”
Setelah merenung dan bertanya seperti yang dicontohkan, kita harus melakukan tindakan lebih jauh, yakni ‘mengikat’ atau menuliskan sesuatu yang diperoleh dari kegiatan membaca itu. Diharapkan, yang dituliskan adalah sesuatu yang bermakna—sesuatu yang penting dan sangat berharga bagi diri pribadi. Bagaimana jika tidak ada yang dapat dituliskan? Tidak ada masalah. Merenung dan mempertanyakan tentang hasil kegiatan membaca sudah sangat bermanfaat bagi diri yang melakukan kegiatan tersebut. Bisa jadi memang materi yang dibaca tidak memberikan apa-apa. Itu artinya kita perlu berhati-hati dalam memilih dan melakukan kegiatan membaca, mengingatkan agar jangan sampai kamu sudah membaca tapi berujung pada kesia-siaan alias tidak mendapatkan apa-apa.
Sekarang bayangkan jika kita mendapatkan sesuatu yang sangat penting dan berharga ketika selesai membaca suatu deretan teks. Kita merasakan bahwa wawasa kita bertambah. Tapi, sayangnya kita membiarkan semua itu melintas di pikiran. Kita hanya merasa takjub dan seperti mendapatkan sesuatu pada saat selesai membaca. Setelah itu, kita pun melakukan kegiatan lain dan akhirnya, hilanglah semua hal penting dan berharga yang kita peroleh tadi. Kita terserang penyakit lupa! So, ikatlah secara cepat apa saja yang sedang berseliweran di dalam pikiran kita. Keluarkan atau ungkapkan semua itu dalam bentuk tertulis.
Jika aktivitas ‘mengikat’ sesuatu yang penting dan berharga yang diperoleh dari membaca kita lakukan secara kontinu dan konsisten, tentulah kita akan diantar untuk menuju ke ‘mengikat makna’ tahap paling tinggi. Apa ”mengikat makna” di tahap paling tinggi? Itulah menemukan dan merumuskan sebuah gagasan, idea. Tahap akhir dari ‘mengikat makna’ ini adalah ketika kita mendengar bisikan Tuhan dan mencatat ilham tersebut secara sangat rapi dan jelas.


Diambil dari pak Hernowo Hasim untuk mengingatkan diri sendiri

Senin, 04 Juli 2016

Berbagi Meski Hanya Dengan Satu Tarikan Napas

Interaksi sosial merupakan kondisi yang setiap hari kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, minimal dengan keluarga atau pasangan kita di rumah.
Tidak terasa apa yang kita lakukan dalam aktivitas ini adalah aktivitas "berbagi" . Ketika seseorang berdiskusi kemungkinan besar berbagi ilmu, pengalaman atau berbagi tugas. Namun jika seseorang hanya berdiam diri saja secara tidak langsung sudah mempunyai "nilai berbagi". Berbagi suasana, berbagi pandangan, berbagi kondisi, minimal berbagi apa yang dilihat saat apa yang ditampilkan seseorang itu berdiam diri, hal ini yang jarang dirasakan oleh seseorang. Bahwa pakaiannya, suaranya, penampilannya, perilakunya dan segala aktivitasnya secara tidak langsung 'dibagikan' dengan cara dilihat dan dirasakan secara tidak lansung oleh orang lain.
Bagaimana agar dapat berbagi dengan mempunyai nilai manfaat ? Allah Maha Indah, dan Allah sangat menyukai keindahan dan sesuatu yang menarik. Pakaian yang indah ('yang sesuai'), suara yang indah ('yang menentramkan'), perilaku yang indah ('bermanfaat'), berdiam diri yang indah ('membuat teduh suasana'). 
Maka meskipun hanya dengan satu tarikan napas kalau kita lakukan dengan rasa ikhlas dan nyaman maka akan dirasakan oleh lingkungan kita, sehingga dapat mengubah 'dunia'.
Selamat Berbagi


Bokor, Akhir Ramadhan 1437 H