Mengikat
Makna adalah sebuah
aktivitas yang menggabungkan membaca dan menulis. Ketika kamu selesai membaca
koran, majalah, jurnal, makalah, buku atau tulisan apa saja, cobalah untuk
’mengikat’ hasil kegiatan membacamu dengan cara menuliskannya. Orang yang gagal
menulis apa yang dia mengerti bukan karena dia tak punya ide dan tak bisa
menulis. Terkadang dia juga punya semangat dan gairah. Tapi, kenapa gagal?
Karena dia malas dan tak mau membaca sehingga kekurangan atau miskin kata-kata.
Kemiskinan kata-kata ini menyulitkannya merumuskan apa yang dia mengerti.
Tuhan
melimpahkan kasih sayang kepada hamba-Nya secara
unik dan luar biasa lewat membaca (iqra’).
Dengan kemampuan membaca,
manusia kemudian bisa memiliki derajat di atas malaikat. Dengan kemampuan
membaca, seorang manusia dapat mendaki tangga kualitas kehidupan. Manusia dapat
menantang dirinya untuk terus mereguk nikmat Tuhan yang tersebar di alam
semesta, menjumpai wilayah baru, menyimpan pengetahuan baru dan menjelajahi
kehidupan luas yang hampir tidak terbatas (feel so excited for these words).
Setelah kita selesai membaca, dianjurkan agar deretan
teks yang telah selesai dibaca tersebut direnungkan dengan jalan dipertanyakan.
Misalnya, dengan bertanya, ”Apa yang kita dapat sehabis membaca tiga halaman novel
Laskar Pelangi ini, halaman
120-123, apa yang membuat kita terkesan?”
Setelah merenung dan bertanya seperti yang dicontohkan,
kita harus melakukan tindakan lebih jauh, yakni ‘mengikat’ atau menuliskan
sesuatu yang diperoleh dari kegiatan membaca itu. Diharapkan, yang dituliskan adalah sesuatu yang
bermakna—sesuatu yang penting dan sangat berharga bagi diri pribadi. Bagaimana jika tidak ada yang dapat
dituliskan? Tidak ada masalah. Merenung dan mempertanyakan tentang hasil
kegiatan membaca sudah sangat bermanfaat bagi diri yang melakukan kegiatan
tersebut. Bisa jadi memang materi yang dibaca tidak memberikan apa-apa. Itu
artinya kita perlu berhati-hati dalam memilih dan melakukan kegiatan membaca,
mengingatkan agar jangan sampai kamu sudah membaca tapi berujung pada
kesia-siaan alias
tidak mendapatkan apa-apa.
Sekarang
bayangkan jika kita mendapatkan sesuatu yang sangat penting dan berharga ketika
selesai membaca suatu deretan teks. Kita merasakan bahwa wawasa kita bertambah.
Tapi, sayangnya kita membiarkan semua itu melintas di pikiran. Kita hanya merasa takjub dan seperti
mendapatkan sesuatu pada saat selesai membaca. Setelah itu, kita pun melakukan
kegiatan lain dan akhirnya, hilanglah semua hal penting dan berharga yang kita
peroleh tadi. Kita terserang penyakit lupa! So, ikatlah secara cepat apa saja yang sedang
berseliweran di dalam pikiran kita. Keluarkan atau ungkapkan semua itu dalam
bentuk tertulis.
Jika aktivitas ‘mengikat’ sesuatu yang penting dan
berharga yang diperoleh dari membaca kita lakukan secara kontinu dan konsisten, tentulah kita akan diantar untuk
menuju ke ‘mengikat makna’ tahap paling tinggi. Apa ”mengikat makna” di tahap paling
tinggi? Itulah menemukan dan merumuskan sebuah gagasan, idea. Tahap akhir dari ‘mengikat makna’ ini adalah
ketika kita mendengar bisikan Tuhan dan mencatat ilham tersebut secara sangat
rapi dan jelas.
Diambil
dari pak Hernowo Hasim untuk mengingatkan diri sendiri










