Rabu, 06 Juli 2016

Mengikat Makna

Mengikat Makna adalah sebuah aktivitas yang menggabungkan membaca dan menulis. Ketika kamu selesai membaca koran, majalah, jurnal, makalah, buku atau tulisan apa saja, cobalah untuk ’mengikat’ hasil kegiatan membacamu dengan cara menuliskannya. Orang yang gagal menulis apa yang dia mengerti bukan karena dia tak punya ide dan tak bisa menulis. Terkadang dia juga punya semangat dan gairah. Tapi, kenapa gagal? Karena dia malas dan tak mau membaca sehingga kekurangan atau miskin kata-kata. Kemiskinan kata-kata ini menyulitkannya merumuskan apa yang dia mengerti.
Tuhan melimpahkan kasih sayang kepada hamba-Nya secara unik dan luar biasa lewat membaca (iqra’). Dengan kemampuan membaca, manusia kemudian bisa memiliki derajat di atas malaikat. Dengan kemampuan membaca, seorang manusia dapat mendaki tangga kualitas kehidupan. Manusia dapat menantang dirinya untuk terus mereguk nikmat Tuhan yang tersebar di alam semesta, menjumpai wilayah baru, menyimpan pengetahuan baru dan menjelajahi kehidupan luas yang hampir tidak terbatas (feel so excited for these words).
Setelah kita selesai membaca, dianjurkan agar deretan teks yang telah selesai dibaca tersebut direnungkan dengan jalan dipertanyakan. Misalnya, dengan bertanya, ”Apa yang kita dapat sehabis membaca tiga halaman novel Laskar Pelangi ini, halaman 120-123, apa yang membuat kita terkesan?”
Setelah merenung dan bertanya seperti yang dicontohkan, kita harus melakukan tindakan lebih jauh, yakni ‘mengikat’ atau menuliskan sesuatu yang diperoleh dari kegiatan membaca itu. Diharapkan, yang dituliskan adalah sesuatu yang bermakna—sesuatu yang penting dan sangat berharga bagi diri pribadi. Bagaimana jika tidak ada yang dapat dituliskan? Tidak ada masalah. Merenung dan mempertanyakan tentang hasil kegiatan membaca sudah sangat bermanfaat bagi diri yang melakukan kegiatan tersebut. Bisa jadi memang materi yang dibaca tidak memberikan apa-apa. Itu artinya kita perlu berhati-hati dalam memilih dan melakukan kegiatan membaca, mengingatkan agar jangan sampai kamu sudah membaca tapi berujung pada kesia-siaan alias tidak mendapatkan apa-apa.
Sekarang bayangkan jika kita mendapatkan sesuatu yang sangat penting dan berharga ketika selesai membaca suatu deretan teks. Kita merasakan bahwa wawasa kita bertambah. Tapi, sayangnya kita membiarkan semua itu melintas di pikiran. Kita hanya merasa takjub dan seperti mendapatkan sesuatu pada saat selesai membaca. Setelah itu, kita pun melakukan kegiatan lain dan akhirnya, hilanglah semua hal penting dan berharga yang kita peroleh tadi. Kita terserang penyakit lupa! So, ikatlah secara cepat apa saja yang sedang berseliweran di dalam pikiran kita. Keluarkan atau ungkapkan semua itu dalam bentuk tertulis.
Jika aktivitas ‘mengikat’ sesuatu yang penting dan berharga yang diperoleh dari membaca kita lakukan secara kontinu dan konsisten, tentulah kita akan diantar untuk menuju ke ‘mengikat makna’ tahap paling tinggi. Apa ”mengikat makna” di tahap paling tinggi? Itulah menemukan dan merumuskan sebuah gagasan, idea. Tahap akhir dari ‘mengikat makna’ ini adalah ketika kita mendengar bisikan Tuhan dan mencatat ilham tersebut secara sangat rapi dan jelas.


Diambil dari pak Hernowo Hasim untuk mengingatkan diri sendiri

0 komentar:

Posting Komentar